Pagi itu aku bangun seperti biasa ketika matahari mulai menyinari jendela kamarku. Aku segera merapikan tempat tidur, membuka jendela agar udara segar masuk, lalu menyapu lantai dan membersihkan debu di meja belajarku. Meski kegiatan itu sederhana, hatiku terasa senang melakukannya.
Setelah kamar rapi, aku menuju dapur untuk membantu menyiapkan sarapan. Aku memasak telur dadar dan menyeduh segelas susu hangat. Aroma masakan memenuhi dapur dan membuat suasana pagi terasa lebih hangat serta menyenangkan.
Usai sarapan, aku bergegas mandi dan mengenakan seragam sekolah. Seperti biasa, orang tuaku mengantarku ke sekolah. Sepanjang perjalanan, aku melihat teman-temanku berjalan sambil bercanda dengan wajah ceria, membuat suasana pagi semakin hidup.
Sesampainya di sekolah, suasana sudah ramai. Adik-adik kelas tampak berlarian dan bermain di lapangan dengan penuh keceriaan. Aku pun segera masuk ke kelas, menggantung ransel, lalu melaksanakan tugas piket bersama teman-teman.
Tak lama kemudian, guru memanggil seluruh siswa untuk segera berbaris di lapangan. Kami melakukan kebiasaan pagi, mulai dari berdoa, bersalaman, hingga berlari mengelilingi lapangan sebanyak tiga kali. Kegiatan itu membuat tubuhku segar dan siap menerima pelajaran.
Setelah semua kegiatan selesai, kami kembali ke kelas. Proses belajar berlangsung dengan penuh semangat, kasih sayang, serta bimbingan dari guru. Hari itu terasa sederhana, tetapi bermakna karena diawali dengan kebiasaan baik.


